Tags

, , , , ,

Fitness+girl by extremeforlife.blogspot.com

Gaya hidup moderen yang serba sibuk membuat manusia makin jarang berolahraga. Pekerjaan di kantor lebih banyak membatasi gerak dan menuntut manusia-manusia moderen untuk duduk sepanjang hari. Akibatnya, risiko diabetes pun meningkat.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi erat hubungannya dengan aktivitas fisik dan olahraga. Seseorang yang jarang olahraga rentan mengalami hipertensi, sebaliknya penderita hipertensi bisa membaik kondisinya jika rajin olahraga dengan intensitas yang terukur.

Sebuah penelitian di Univeristy of Exeter menunjukkan, tekanan darah pada penderita hipertensi bisa diturunkan hingga dua pertiga jika seseorang rajin olahraga. Dalam penelitian ini, olahraga yang dilakukan adalah sepakbola yang sifatnya rekreasional.

Senada dengan penelitian itu, Dr Michael Triangto, SpKO dari RS Mitra Kemayoran juga menganjurkan agar penderita hipertensi maupun sakit jantung untuk tetap berolahraga. Justru kalau tidak berolahraga, kondisinya akan sulit menjadi lebih baik.

Dr Michael menyebutnya sebagai sport therapy dan mengawalinya dengan pemeriksaan denyut jantung terlebih dahulu. Tekanan darah tidak akan serta merta langsung turun menjadi normal, tetapi bertahap secara perlahan-lahan sesuai jenis dan intensitas olahraganya.

“Jantung akan menjadi lebih baik jika latihannya bersifat kardio. Ini baik untuk jantung dan paru-paru. Seperti jogging, sepeda, dayung juga disarankan,” kata dokter spesialis olahraga.

Agar olahraganya terukur, Dr Michael juga memberikan rumus penghitungan denyut jantung. Jika pada jantung normal hitungannya 220 dikurangi usia, maka pada penderita sakit jantung atau hipertensi akan berbeda.

“Jika pada pasien, harus dikalikan 50-70 persen dari denyut jantung normal. Misal pasien 20 tahun berarti 220-20 = 200 adalah denyut jantung maksimalnya. Kemudian 200×50 persen = 100 , jika 70 persen = 140. Berarti pasien hanya dapat berlatih dengan range denyut nadi 100-140 untuk melatih jantungnya,” papar Dr Michael.

SOURCE