Tags

, , , , , , , ,

olympus_has_fallen

Di Amerika Serikat, film-film aksi dengan rating R (khusus dewasa) sedang berada dalam masa krisis. Dari sederetan film yang menampilkan aksi pahlawan yang heroik di layar lebar, hanya segelintir saja yang berhasil sukses secara finansial. Karena itu, ketika “Olympus Has Fallen” (2013) yang merupakan thriller aksi dewasa dengan rating R ternyata hadir dengan angka debut yang lebih tinggi dari prediksi, hal ini cukup membangkitkan optimisme. Ternyata, penonton masih suka dengan tontonan eksplosif yang berdarah-darah.

Meski demikian, “Olympus Has Fallen” tak bisa disebut luar biasa. Film yang dibintangi Gerard Butler ini memang tak kenal basa-basi dan punya jajaran pemeran pendukung yang spesial: Morgan Freeman, Aaron Eckhart, Rick Yune, sampai Melissa Leo. Tapi, seperti film sejenisnya, “Olympus Has Fallen” juga sering hadir dengan karakterisasi klise dan kisah yang tentu saja tidak terlalu orisinal.

Yang menjadikan film ini berbeda tentu saja karena sang sutradara, Antoine Fuqua, mampu mengemasnya menjadi sebuah tontonan yang seru dan menyenangkan. Bila Anda belum yakin untuk menjadikan film ini sebagai tontonan wajib minggu ini, rekomendasi di bawah ini mungkin dapat membantu Anda untuk menentukan apakah film aksi ini layak untuk disimak. Berikut adalah lima alasan menonton “Olympus Has Fallen”.

1. Gerard Butler

Gerard Butler memulai karirnya sebagai pemeran pendukung dalam film-film independen, sampai akhirnya mulai mendapat perhatian saat berperan dalam “Dracula 2000” (2000). Butler makin terkenal ketika ia diberi kesempatan untuk berakting bersama bintang-bintang seperti Christian Bale dan Angelina Jolie. Sayangnya, popularitas Butler mulai menurun saat ia mulai menjajaki peran-peran dalam komedi romantis. Meski karir Butler meredup beberapa tahun belakangan, sosoknya yang khas tak pernah dilupakan para penonton film karena ia pernah dengan begitu impresif memerankan Raja Leonidas di film “300” (2006). Dari sini, harusnya Butler menyadari bahwa kariernya paling bersinar ketika ia sedang menghajar para penjahat.

Dalam “Olympus Has Fallen” kita bertemu lagi dengan Butler dalam kapasitas peran yang lebih cocok untuknya. Di film ini, ia berperan sebagai kepala pengawal presiden yang terjebak dalam situasi sulit setelah dirinya dianggap gagal menjalankan tugas penting. Dari segi fisik dan karisma, Butler menghuni karakter Mike Banning dengan sangat pas. Ia pun tidak perlu tampil dengan sentuhan humor, karena Banning memang lebih pas menjadi sosok yang tak kenal kompromi dan tidak segan membunuh demi negaranya. Tapi, tentu saja itu tidak mengurangi kenikmatan menonton filmnya, karena meski karakternya tak suka basa-basi, Banning hadir sebagai karakter simpatik yang disukai penonton sejak awal filmnya.

2. Film Baru dengan Gaya Lawas

“Olympus Has Fallen” memiliki urgensi, ketegangan, dan tingkat kekerasan yang meroket tinggi dibandingkan banyak film aksi yang tampil belakangan ini. Sama dengan film-film rating R seperti “The Expendables” (2010) dan “The Last Stand” (2013), “Olympus Has Fallen” tidak segan untuk kembali memajang gaya aksi dari film-film lawas. Film ini punya rasa seperti film aksi yang diproduksi di tahun 90-an. Banjir darah, tak banyak kompromi, dan tidak malu mempertontonkan patriotisme yang berlebihan.

3. Lebih Bagus dari “A Good Day to Die Hard”

Tidak sulit untuk melihat bahwa “Olympus Has Fallen” mirip dengan film “Die Hard”. Meski kualitas akting dan intensitasnya ceritanya berbeda sangat jauh dengan film legendaris ini, dalam skala franchise, “Olympus Has Fallen” telah sukses menggulingkan “A Good Day to Die Hard” (2013) dan layak disebut versi film “Die Hard” yang lebih bagus dari film besutan John Moore tersebut. Dengan biaya yang lebih murah dan tanpa bintang utama sekelas Bruce Willis, Antoine Fuqua mampu meminjam elemen-elemen cerita yang terinspirasi dari aksi John McClane dan berhasil memasukkannya dalam latar Gedung Putih.

4. CGI yang Buruk

Buruknya CGI di film “Olympus Has Fallen” memang bukan desas-desus. Bila Anda ke bioskop, Anda dapat melihat sendiri betapa buruknya CGI di film ini. Namun, bila hal itu terkadang membuat orang jengah dan membenci filmnya, dalam “Olympus Has Fallen”, kegagalan ini justru punya efek samping yang menarik. Meski dicela, penonton mungkin malah akan merasa terhibur karena buruknya CGI dalam film ini memberi “Olympus Has Fallen” momen komedi yang tidak banyak dimiliki oleh ceritanya. Anda bebas tertawa saat adegan CGI di layar membuat ceritanya menjadi konyol dan tidak dapat dipercaya. Diskusi mengenai betapa buruknya CGI yang di-outsource dari Bulgaria dalam film ini juga dapat menjadi hiburan tersendiri. Tak heran, bila Anda membaca ulasan-ulasan film ini, Anda mungkin dapat menemukan beberapa bahasan yang melihat hal ini dari sisi yang jenaka.

5. “White House Down”

Tahun lalu, penonton disuguhi dengan pilihan antara “Mirror Mirror” atau “Snow White and the Huntsman”. Tahun 2011, penonton juga bisa memilih antara “Friends with Benefits” atau “No Strings Attached”. Hadirnya film-film dengan konsep mirip memang makin marak terjadi belakangan ini. Dan bila Anda belum tahu, “Olympus Has Fallen” adalah salah satunya.

Di tahun ini, kita juga akan melihat film “White House Down” besutan Roland Emmerich yang sama-sama bercerita tentang serangan ke Gedung Putih. Bedanya, kali ini Channing Tatum yang akan hadir untuk menyelamatkan Amerika Serikat. Menarik untuk melihat mana produk yang lebih bagus dari film-film kembar semacam ini. “White House Down” sendiri terdengar sangat menjanjikan karena naskahnya dibeli dari James Vanderbilt seharga $3 juta—sebuah angka yang cukup fantastis untuk sebuah spec script. Tentu saja, dengan harga setinggi ini, kita bisa mengharapkan bahwa “White House Down” menyimpan sesuatu yang spesial, dan bukan hanya sebatas repetisi dari film-film seperti “Die Hard” serta “Air Force One” (1997). Jadi, sebelum menyaksikan “White House Down” yang akan diputar di musim panas nanti, Anda mungkin ingin melihat “Olympus Has Fallen” sebagai bahan komparasi.

Judul: Olympus Has Fallen
Sutradara: Antoine Fuqua
Penulis Naskah: Creighton Rothenberger, Katrin Benedikt
Pemeran: Gerard Butler (Mike Banning), Aaron Eckhart (President Benjamin Asher), Finley Jacobsen (Connor), Dylan McDermott (Forbes), Rick Yune (Kang), Morgan Freeman (Speaker Trumbull), Angela Bassett (Secret Service Director Lynn Jacobs), Melissa Leo (Secretary of Defense Ruth McMillan), Radha Mitchell (Leah), Cole Hauser (Roma)
Rating: R
Durasi: 120 menit
Produksi: Millennium Films, Nu Image Films, West Coast Film Partners

SOURCE